Kenapa Anak Orang Kaya Umumnya Jadi Kaya Juga?


Menurut Dr. Bruce Lipton, dari lahir pikiran kita mulai terprogram oleh lingkungan kita dan masuk ke alam bawah sadar. Anak sampai usia tujuh tahun biasanya langsung memasukkan apa yang dia lihat, dengar dan rasakan ke alam bawah sadarnya. Cara ini merupakan hipnosis otomatis. Itulah sebabnya, seorang anak bisa belajar banyak dari lahir sampai usia 7 tahun. Dari mulai belajar berjalan, berbicara dan juga meniru sikap orang-orang di sekitarnya.

Mulai usia 7 tahun ke atas, alam sadar anak-anak sudah mulai berkembang dengan baik.  Perkembangan ini terus berlangsung sampai dewasa dan sampai usia lanjut. Dari situ dia mulai mem-filter input-input apa saja yang perlu dimasukkan ke alam bawah sadarnya. Sistem filternya berifat logika, emosional dan juga etika.

Seorang anak yang berasal dari keluarga kaya, dari kecil pikirannya sudah terprogram dengan cara-cara hidup orang kaya. Hal ini akan terbawa terus dalam pikiran bawah sadarnya saat dia dewasa. Sehingga banyak kejadian, saat dewasa anak tersebut kaya dan sukses secara ekonomi, walaupun saat sekolahnya anak tersebut tidak terlalu pintar. Perlu dipahami bahwa cara-cara hidup orang kaya di sini, berbeda dengan cara hidup orang yang cenderung boros dalam kehidupan sehari-harinya.



Sebaliknya anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, dari kecil pikirannya mendapat masukan pola pikir orang tidak mampu. Misalnya, harus kerja keras untuk dapat uang, jangan nyimpan uang banyak-banyak di dompet karena takut hilang, dan lain-lain. Dengan pola pikir seperti ini, bisa jadi saat dewasa anaknya kurang sukses secara finansial, walaupun saat di sekolah termasuk golongan murid yang pintar. Ataupun bisa saja penghasilannya banyak tapi pengeluarannya juga banyak. Hal ini karena alam bawah sadarnya mengingatkan agar jangan banyak-banyak menyimpan uang.

Menurut Dr. Lipton, bagaimana caranya kita bisa memprogram ulang alam bawah sadar kita setelah dewasa? Salah satu caranya adalah dengan melakukan repetisi, pengulangan kata-kata pada diri sendiri. Afirmasi ke diri sendiri secara rutin. Misalnya: “saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia”. Hal ini mirip saat kita belajar naik sepeda. Kita latihan dan ulangi terus menerus sampai kemampuan naik sepeda ini masuk ke alam bawah sadar, dan kita bisa naik sepeda dengan gampang tanpa perlu kita ingat-ingat lagi bagaimana cara mengayuhnya.

Repetisi atau pengulangan ini tidak sama dengan menempelkan tulisan-tulisan di meja kita, misalnya tulisan: “saya bahagia”. Karena tulisan di meja kita itu bersifat anjuran, bukan repetisi. Contoh repetisi ini bisa dilihat dilakukan oleh para biarawan dengan manik-manik kalungnya. Mereka biasa melakukan repetisi kata-kata pada dirinya sambil “menghitung” manik-manik yang ada di kalungnya.

Jadi, pemograman diri bisa dilakukan saat masih kecil dan juga dengan cara repetisi. Seorang anak orang kaya umumnya jadi orang kaya juga, karena dari kecil dia sudah memiliki pola pikir orang kaya. Repetisi bisa dilakukan orang dewasa untuk memprogram ulang pola pikir lama yang tidak pas bagi pengembangan dirinya.

 

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *